Rabu, 16 November 2011

Semangat Kirab Budaya Yogyakarta

Yogyakarta, CyberNews. Hujan deras yang mengguyur Kota Yogyakarta, tak melunturkan semangat peserta Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik yang berlangsung dari Stasiun Tugu menuju Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (4/1).
Penonton memadati sepanjang jalan yang dilalui. Meski hujan deras, baik peserta kirab maupun penonton cukup antusias mengikuti pesta budaya tersebut hingga usai.
Kirab yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan kesenian tradisional dari berbagai daerah serta pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se Yogyakarta tersebut, berlangsung khidmad. Berbagai asrama pelajar dan mahasiswa yang ada di Yogyakarta, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua, Sulawesi, Sumatera dan banyak lagi lainnya turut memeriahkan acara tersebut.
Mereka mengenakan pakain khas tradisional daerahnya masing-masing, sedangkan peserta kirab dari Yogyakarta mengenakan pakain tradisional Jawa Mataram komplit dengan blankon dan keris yang terselip dipinggang. 
Selain itu, berbagai kesenian mulai dari Wayang Orang, Jathilan, Reog, Liong dan Barongsay, sehingga menambah nuansa kirab makin variatif dan menarik dipandang mata sampai penonton rela berbasah ria sekedar untuk menyaksikan acara tersebut.
Rombongan kirab dari Stasiun Tugu diterima GBPH Prabukusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X yang kemudian jalan kaki menyusuri Jalan Malioboro, Jalan A Yani, Tri Kora dan langsung ke selatan menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. "Kami benar-benar merupakan bagian dari warga Yogyakarta yang tidak dapat dipisahkan, jadi jika ada yang mengusik ketenangan Yogyakarta baik itu pemerintah pusat sekalipun akan kami bela mati-matian," kata Slamet, pengemudi becak yang setiap harinya mangkal di Malioboro.
Agus, Koordinator Tukang Becak Malioboro mengatakan, untuk memeriahkan sekaligus mendukung Keistimewaan Yogyakarta ia bersama teman-temannya rela tidak bekerja selama sehari. Mereka sadar bahwa perjuangan perlu pengorbanan. ''Ini murni dari kami mas, kami sadar hanya ini yang bisa kami berikan untuk Yogyakarta Istimewa,'' katanya.
Sementara Hendro Pleret aktivis 1987 mengatakan, hal ini merupakan wujud dukungan penuh masyarakat Yogyakarta atas Keistimewaan DIY dan wujud kongkrit dari pencanangan Yogyakarta Kota Republik. Pencanangan akan dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pagelaran Keraton Yogyakarta usai menerima rombongan kirab, bersama bupati dan walikota se-DIY.
Setelah menerima peserta kirab, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pagelaran, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mendeklarasikan Yogyakarta Kota Republik yang langsung disambut tepuk tangan ribuan tamu undangan dan peserta kirab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar