Rabu, 16 November 2011

Peringatan berdirinya Keraton Yogyakarta digelar di TMII

 Peringatan berdirinya Keraton Yogyakarta atau "Hadeging Nagari Ngayogyakarta" ke-264 tahun 2011 bakal digelar di anjungan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta pada Minggu 13 November 2011.

"Salah satu kegiatan untuk mendukung acara tersebut adalah `Gelar Seni Budaya Yogyakarta` yang menampilkan kirab dan pagelaran seni dari prajurit kraton, prajurit pakualaman dan kesenian dari kabupaten/kota se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)," kata Kepala Bidang Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Edy Winarta, Kamis.

Menurut dia, dalam kesempatan tersebut kontingen Kabupaten Sleman akan menampilkan tarian garapan dengan judul "Greget Kuntul" dari Dusun Kemiri, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem.

"Kontingen Sleman tersebut melibatkan sebanyak 45 orang yang terdiri atas 14 penari, 18 bregada prajurit (pasukan tradisonal), 10 pemusik dan dua orang pendamping," katanya.

Ia mengatakan, tarian garapan berjudul "Greget Kuntul" berpijak pada kesenian tradisional "Angguk Kipas" yang pada saat ini berkembang di dusun Kemiri, Purwobinangun Pakem.

"Angguk Kipas merupakan seni tradisional kerakyatan yang bernapaskan agama Islam yang dikembangan masyarakat yang berasal dari Dusun Kemiri Purwobinangun Pakem Sleman Yogyakarta" kata Parjiono selaku tokoh masyarakat setempat.

Parjiono mengemukakan, seni pertunjukan ini pada awalnya hanya dimainkan oleh beberapa anak muda laki-laki yang menari dan menyanyi.

"Namun pada perkembangannya saat ini para gadis juga mulai turut berperan dan banyak yang tertarik untuk ikut menari dan menyanyi," katanya.

Ia mengatakan, untuk instrumen musik yang banyak digunakan adalah terbang, kendang, jidor yang disertai dengan syair-syair nyanyian dari Kitab Barzanji.

Semangat Kirab Budaya Yogyakarta

Yogyakarta, CyberNews. Hujan deras yang mengguyur Kota Yogyakarta, tak melunturkan semangat peserta Kirab Budaya Yogyakarta Kota Republik yang berlangsung dari Stasiun Tugu menuju Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (4/1).
Penonton memadati sepanjang jalan yang dilalui. Meski hujan deras, baik peserta kirab maupun penonton cukup antusias mengikuti pesta budaya tersebut hingga usai.
Kirab yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan kesenian tradisional dari berbagai daerah serta pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se Yogyakarta tersebut, berlangsung khidmad. Berbagai asrama pelajar dan mahasiswa yang ada di Yogyakarta, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua, Sulawesi, Sumatera dan banyak lagi lainnya turut memeriahkan acara tersebut.
Mereka mengenakan pakain khas tradisional daerahnya masing-masing, sedangkan peserta kirab dari Yogyakarta mengenakan pakain tradisional Jawa Mataram komplit dengan blankon dan keris yang terselip dipinggang. 
Selain itu, berbagai kesenian mulai dari Wayang Orang, Jathilan, Reog, Liong dan Barongsay, sehingga menambah nuansa kirab makin variatif dan menarik dipandang mata sampai penonton rela berbasah ria sekedar untuk menyaksikan acara tersebut.
Rombongan kirab dari Stasiun Tugu diterima GBPH Prabukusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X yang kemudian jalan kaki menyusuri Jalan Malioboro, Jalan A Yani, Tri Kora dan langsung ke selatan menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. "Kami benar-benar merupakan bagian dari warga Yogyakarta yang tidak dapat dipisahkan, jadi jika ada yang mengusik ketenangan Yogyakarta baik itu pemerintah pusat sekalipun akan kami bela mati-matian," kata Slamet, pengemudi becak yang setiap harinya mangkal di Malioboro.
Agus, Koordinator Tukang Becak Malioboro mengatakan, untuk memeriahkan sekaligus mendukung Keistimewaan Yogyakarta ia bersama teman-temannya rela tidak bekerja selama sehari. Mereka sadar bahwa perjuangan perlu pengorbanan. ''Ini murni dari kami mas, kami sadar hanya ini yang bisa kami berikan untuk Yogyakarta Istimewa,'' katanya.
Sementara Hendro Pleret aktivis 1987 mengatakan, hal ini merupakan wujud dukungan penuh masyarakat Yogyakarta atas Keistimewaan DIY dan wujud kongkrit dari pencanangan Yogyakarta Kota Republik. Pencanangan akan dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pagelaran Keraton Yogyakarta usai menerima rombongan kirab, bersama bupati dan walikota se-DIY.
Setelah menerima peserta kirab, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pagelaran, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mendeklarasikan Yogyakarta Kota Republik yang langsung disambut tepuk tangan ribuan tamu undangan dan peserta kirab.

Budaya Tradisional

Belum lama kita menghadapi masalah yang cukup menghebohkan lantaran budaya tradisional negeri kita tercinta ini dianggap telah dicuri oleh salah satu negeri tetangga. Semisal batik, angklung hingga lagu-lagu rakyat. Pencurian budaya tradisional itu menimbulkan amarah rakyat Indonesia yang tidak rela budaya mereka diakui sebagai milik negara lain.
Namun permasalahan itu juga membuat kita tersentak bahwa selama ini ternyata kita telah mengabaikan budaya tradisional sendiri sehingga kecolongan oleh bangsa lain yang lebih pandai memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Apakah kita memang patut dipersalahkan karena ternyata gagal memelindungi budaya bangsa sendiri? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan itu.
Sebab kehidupan manusia sendiri tidak pernah statis dan pada seiring waktu akan selalu mengalami perubahan sosial termasuk pula budaya yang menurut Selo Soemardjan dan Soleiman Soemardi dari FISIP-UI adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Sehingga mau tidak mau kita akan mengalami perubahan dari budaya lama menjadi budaya baru yang mungkin sebagian atau seluruhnya berbeda dari sebelumnya.
Jika pada zaman dahulu perubahan budaya biasanya terjadi dalam waktu lama dan gradual, namun pada zaman yang kian modern berkat kemajuan teknologi dan juga globalisasi dalam segala aspek kehidupan manusia di bumi ini sehingga perubahan budaya terjadi cukup cepat dan tidak jarang radikal. Tidak heran jika di Indonesia pun terjadi kegamangan budaya karena intervensi budaya modern dari luar yang makin gencar.
Selain itu, generasi muda kita sebagai produk modernisme semakin kurang tertarik terhadap hal-hal yang berbau tradisi karena dianggap kuno, ketinggalan zaman dan hanya milik generasi tua belaka. Menghadapi keadaan itu, pemerintah dan segenap kelompok masyarakat yang peduli sebenarnya tidak tinggal diam. Karena bagaimanapun budaya tradisional patut dilindungi dan dilestarikan.